Selasa, 22 Mei 2012

Masa Orba (Orde Baru)



 Orde Baru
Hadirnya partai politik dalam suatu sistm pemerintahan akan berpengaruh terhadap tatanan birokrasi pemerintah. Susunan birokrasi pemereintah akan terdiri dari jabatan-jabatan yang diisi oleh para birokrat, dan ada pula yang diisi oleh para pejabat politik. Kehadiran pejabat politik yang berasal dari kekuatan politik atau partai politik dalam birokrasi pemerintah tidak bisa dihindari.
Di Indonesia  pada masa Orde Baru, yang berkuasa dalam pemerintahan adalah partai pemenang pemilu. Adapun pemenangnya dari pemilu ke pemilu gtetap dimenangkan Golkar dengan mayoritas tunggal yang tidak mau disebut sebagai partai politik. Oleh karena itu, susunan pemerintah dikuasa oleh Golkar.







Sistem Politik pada masa Orde Baru
Pada zaman orde baru menteri di capai melalui tentara, dan melalui golongan politik yang tidak mau disebut partai politik akan tetapi bermain politik. Adapun salah satunya melalui konglomerat, dan orang-orang dekat istana. Pada pemerintahan Orde Baru kabinet pertama kali dibentuk adalah Kabinet Ampera. Dalam Kabinet Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) ini terdapat 3 unsur, yakni: unsur pimpinan dijabat oleh presiden. Unsur pembantu pimpinan dijabat oleh presidium, dan unsur anggota-anggota kabinet dijabat oleh menteri. Kabinet terdiri dari 24 departemen, masing-masing dipimpin oleh seorang menteri.
Selama pemerintahan Orde Baru birokrasi pemerintahan selalu ditarik dari lokus dan fokus penggunaan kekuasaan yang sedikit banyak menjauhkan dari terwujudnya demokrasi. Paradigma kekuasaan selalu bergulir dari waktu-ke waktu, bergerak antara lembaga eksekutif dan legislatif. Keedua lembaga itu peran militer ikut mewarnai paradigma kekuasaan tersebut. Pada kurun waktu tertentu lokus kekuasaan berada pada lembaga eksekutif. Di sini pemerintahan lebih kuat dan menunjukan supermasi kekuasaan ketimbang lembaga-lembaga yang ada.
Sehingga dengan demikian penggunaan kekuasaan fokusnya diarahkan agar sentralisasi kekuasaan berasal dan bermuara disuatu tempat. Pada kurun waktu yang lain, kekuasaan berada pada lembaga legislatif. Dalam pemerintahan Orde Baru profosionalitas di lembaga legislatif dan eksekutif tidak bisa diwujudkan.


Partai Politik pada masa Orde Baru
Pada masa Orde Baru Golkar selalu memenangkan pemilu dengan mayoritas tunggal. Pedahal golkar menanamkan dirinya bukan partai politik, akan tetapi setiap pemilihan umum ikut sebagai konstestan pemilu dan selalu memenangkan suara terbanyak. Kabinet Orde baru ini menteri-menterinya selalu berasal dari para teknokrat bukan politis. Karena golkar sebagai pemenang pemilu mengutamakan kekaryaan, maka karya itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang profesional dari kalangan teknokrat.
Zaman pemerintahan Orde Baru ini reputasi partai politik dibuat amat tercela. Dengan partai politik rakyat terpecah-belah menjadi keping-keping anak bangsa yang membahayakan persatuan. Pendeknya partai politik tidak ada jasanya bagi bangsa ini. Maka tamatnya riwayat partai politik saat itu. Peran mereka diganti dengan kerja keras dengan slogan kekaryaan pembangunan negara dan bangsa ini bisa dilakukan dengan karya yang besar melalui Golkar.
Dengan demikian peranan partai politik sama sekali tidak ada, bahkan partai politik acapkali dijadikan dalih yang membuat tidak ada stabilitas pembangunan bangsa dan negara. Dua partai politik, yakni PPP dan PDI sama sekali tidak lagi bisa menyentuh pemerintahan. Kejadian ini sampai berakhir pemerintahan suharto dan diganti dengan pemerintahan reformasi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar